Pusat Riset, Konsultasi, Pelatihan dan Seminar tentang Metode Analytic Hierarchy Process (AHP)
Kamis, 07 Juli 2016
Jumat, 17 Juni 2016
Sensitivitas Faktor Pemilihan Bank Syariah di Indonesia
Analisa sensitivitas dapat dipakai untuk memprediksi keadaan apabila terjadi perubahan yang cukup besar, misalnya terjadi perubahan bobot prioritas atau urutan prioritas dari kriteria karena adanya perubahan preferensisehingga muncul usulan pertanyaan bagaimana urutan prioritas alternatif yang baru dan tindakan apa yang perlu dilakukan. Dalam suatu hirarki tiga level, level dua dan hirarki tersebut dapat disebut sebagai variabel eksogen sedangkan level tiganya adalah variabel endogen. Analisa sensitivitas dan hirarki tersebut adalah melihat pengaruh dan perubahan pada variabel eksogen terhadap kondisi variabel endogen.
Hasil yang didapatkan dan terlihat pada gambar, terdapat 3 kriteria yang cukup sensitif dalam pemilihan bank syariah di Indonesia: faktor syariah, faktor aksesibilitas jaringan kantor dan faktor kecanggihan teknologi. Sementara itu 2 faktor lain tidak begitu sensitif merespon perubahan preferensi kriteria.
Misalnya, hasil analisis sensitivitas terhadap faktor syariah dengan melakukan peningkatan bobot nilai faktor syariah sehingga ia menjadi prioritas utama. Untuk setiap peningkatan sebesar 10% faktor syariah, terdapat peningkatan sekitar 1-2% bobot Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan sebaliknya terdapat penurun sekitar 1-2% bobot BSM. Pada titik tertentu, prioritas alternatif bank menjadi berubah. BMI menjadi bank syariah yang paling dipilih dibanding BSM. Sementara itu posisi tiga hingga lima sama: BNI Syariah, BRI Syariah dan Mega Syariah.
Untuk sensitivitas faktor aksesibilitas, setiap peningkatan sebesar 10% faktor “access”, terdapat rata-rata peningkatan sekitar 1% bobot BNI Syariah dan sebaliknya terdapat penurun sekitar 1% bobot BMI. Pada titik tertentu, prioritas alternatif bank menjadi berubah. BNI Syariah menempati posisi kedua bank syariah yang paling dipilih menggeser posisi BMI. Sementara itu posisi pertama, BSM dan posisi empat dan lima yakni BRI Syariah dan Mega Syariah, sama.
Faktor ketiga yang dianggap sensitif adalah “technological advance”. Mirip dengan faktor aksesibilitas, setiap peningkatan sebesar 10% faktor kecanggihan teknologi, akan meningkatkan 1% bobot BNI Syariah dan sebaliknya menurunkan sekitar 1% bobot BMI. Pada titik tertentu, prioritas alternatif bank menjadi berubah. BNI Syariah menempati posisi kedua bank syariah yang paling dipilih konsumen menggeser posisi BMI. Sementara itu posisi pertama, posisi empat dan lima sama yakni: BSM, BRI Syariah dan Mega Syariah.
Apabila dikaitkan dengan periode waktu maka dapat dikatakan bahwa analisa sensitivitas adalah unsur dinamis dari sebuah hirarki. Artinya penilaian yang dilakukan pertama kali dipertahankan untuk suatu jangka waktu tertentu dan adanya perubahan preferensi yang cukup dilakukan dengan analisa sensitivitas untuk melihat efek yang terjadi. Analisa sensitivitas ini juga akan menentukan stabil tidaknya sebuah hirarki. Makin besar deviasi atau perubahan prioritas yang terjadi maka makin tidak stabil hirarki tersebut.
Senin, 13 Juni 2016
Apa Pertimbangan Nasabah Memilih Bank Syariah?
Penelitian terkait perilaku nasabah bank syariah masih menjadi tema menarik. Beberapa hasil penelitian di beberapa negara menunjukkan hasil yang beragam. Misalnya, Haron dan Norafifah (2010) dalam penelitiannya di Malaysia menemukan hubungan positip antara simpanan yang ada di bank syariah dan tingkat keuntungannya. Secara ringkas, riset tersebut menyimpulkan bahwa faktor yang mendorong nasabah menyimpan uangnya di bank syariah adalah motivasi mencari keuntungan atau faktor ekonomis.
Metawa dan Almossawi (1998) dari hasil penelitiannya di Bahrain menemukan bahwa keputusan nasabah dalam memilih bank adalah karena lebih didorong oleh faktor agama. Nasabah menekankan pada ketaatannya pada prinsip-prinsip ajaran Islam. Selain itu juga keputusan nasabah didorong oleh faktor keuntungan, faktor dorongan keluarga dan teman, serta faktor lokasi bank.
Kali ini, SMART Consulting sebagai lembaga riset dan konsultasi yang fokus dalam ekonomi dan keuangan syariah, mencoba meneliti tema yang sama. Namun berbeda dengan riset-riset yang dilakukan sebelumnya, penelitian ini menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Responden AHP dalam penelitian ini berjumlah 80 orang yang merupakan nasabah bank syariah di wilayah Jabodetabek.
Hasilnya menunjukkan bahwa faktor layanan (service) menjadi faktor utama preferensi nasabah dalam memilih bank syariah dengan nilai eigenvalue 0.420. Selanjutnya menunjukkan bahwa keputusan nasabah dalam memilih bank adalah karena lebih didorong oleh faktor agama (tingkat kesesuaian dengan syariah) dengan 0.265. Profitabilitas selanjutnya menjadi faktor ketiga alasan pemilihan bank syariah diikuti oleh faktor kemudahan akses (accessibility) dan faktor kecanggihan teknologi (technological advance).
Dalam cluster alternatif, berdasarkan pembobotan kriteria di atas, Bank Syariah Mandiri (BSM) menjadi bank syariah yang paling dipilih dengan bobot 0.323. Bank Muamalat Indonesia (BMI) berada pada posisi kedua dengan 0.234. Sementara itu BNI Syariah memiliki bobot nilai 0.195 dan ada pada posisi ketiga. Selanjutnya, BRI Syariah dan Bank Mega Syariah (BSMI) menempati posisi keempat dan kelima.
Penelitian terkait preferensi ini penting untuk dilakukan secara berkala dan berkelanjutan agar bank syariah mengetahui keinginan dari nasabah dan masyarakat secara umum.
Selasa, 03 Mei 2016
Jenis Analisis Sensitivitas dalam AHP
Di dalam metode AHP terdapat analisis sensitivitas yang mengukur seberapa sensitif perubahan nilai eigen value elemen lain jika 1 elemen dirubah nilainya (dilakukan shock atau terjadi perubahan preferensi). Analisis sensitivitas sendiri terbagi ke dalam beberapa bagian, yaitu: performance sensitivity, dynamic sensitivity, gradient sensitivity dan terakhir head to head sensitivity. Keempat tipe analisis sensitivitas ini penting untuk dilakukan dengan aneka tujuan masing-masing.
Selasa, 19 April 2016
Mengapa Wakaf Tunai Kurang Berkembang di Indonesia?: Aplikasi AHP
Berbicara tentang wakaf tunai, institusi wakaf tidak hanya sebagai
ritualitas keagamaan tetapi bisa menyentuh aspek kemanusiaan dengan
memberdayakan potensinya untuk kesejahteraan publik semaksimal mungkin. Dengan
latar belakang tersebut, SMART Consulting, lembaga yang fokus dalam riset
ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia, mencoba mengkaji tentang masalah
ini.
Walaupun pada dasarnya semua masalah wakaf perlu diselesaikan, menyusun
prioritas masalah tetap penting untuk dilakukan karena adanya keterbatasan
sumberdaya, baik sumberdaya dana, maupun sumberdaya waktu yang dimiliki oleh
institusi atau lembaga wakaf. Menyusun prioritas masalah juga akan membantu
pengelola wakaf atau nazhir dalam menyusun rencana strategis
dan menyusun prioritas agenda kerjanya.
Penelitian tahun 2016 ini merupakan pengembangan dari hasil tahun
sebelumnya. Jika pada tahun 2014 penelitian serupa menggunakan pendekatan
metode Analytic Network Process (ANP) yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty,
maka penelitian ini mencoba menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy
Process).
Hasil penelitan menunjukkan bahwa permasalahan
yang muncul dalam pengelolaan wakaf tunai di Indonesia
berdasarkan pendekatan AHP terdiri dari 4 aspek penting yaitu: kepercayaan, sumber daya manusia, sistem dan aspek syariah. Penguraian aspek masalah secara keseluruhan menghasilkan urutan
prioritas: 1)masalah kepercayaan (dimana prioritas nomor satu
masalah sub kriteria kepercayaan adalah lemahnya kepercayaan donator), 2)
masalah syariah (yaitu tidak terpenuhinya akad wakaf, 3) masalah sumber daya
manusia (yaitu penyelewengan dana wakaf), dan 4) masalah sistem (yaitu lemahnya
sistem tata kelola).
Minggu, 17 April 2016
Langganan:
Postingan (Atom)






